WS.com Travelling Blog
A Real journey to paradise
| admin's Blog | |
|
Description: No desc available |
|
Ragam-Ragam Masakan Minang
Published in Untagged by admin | Comment (0)
Ketika itu, kami tinggal di Jalan Ir. Sukarno, tepat berseberangan dengan rumah Gubernur. Peristiwa PRRI dan sentimen anti-Sukarno membuat nama jalan itu berubah menjadi Jalan Panglima Sudirman. Dari rumah, saya berjalan kaki menembus padang rumbia sekitar sepuluh menit, dan sudah tiba di sekolah itu. Sekarang sudah banyak rumah dan ada sebuah mesjid besar di lintasan itu.Kebetulan sekali Ibu Kepala Sekolah melihat kedatangan saya, dan malah mengundang saya masuk ke dalam. Hari itu sedang berlangsung acara wisuda kenaikan kelas yang meriah. Alangkah bahagianya saya berada di tengah-tengah murid sekolah yang pernah menjadi alma mater saya 50 tahun yang lalu.
Saya tidak melewatkan kesempatan untuk singgah di penjual sate di depan sekolah. Setengah abad yang silam, satu ketupat dan dua sate dengan kuah melimpah harganya hanya 25 sen. Sekarang dua ribu rupiah. Sebuah kenyataan inflasi yang luar biasa bila diingat bahwa di antara lima abad itu pernah terjadi pengguntingan nilai uang dari seribu rupiah menjadi satu rupiah. Bayangkan, delapan ribu kali lipat!
Semua sate padang yang dijual di Padang adalah gagrak Pariaman, sebuah kota di Utara Padang. Kuah sate Pariaman berwarna oranye kemerahan karena mengandung banyak cabe. Sate padang di Jakarta kebanyakan gagrak Padangpanjang yang berkuah kuning. Beda yang lain: sate gagrak Pariaman ditaburi kripik sanjay balado (dari singkong atau ubi kayu), sedangkan gagrak Padangpanjang disajikan dengan krupuk jangek (krupuk kulit) lebar yang sekaligus berfungsi untuk menyendok kuah yang melimpah dan gurih itu.
Perbedaan sate Pariaman dan Padangpanjang ini juga sekaligus menunjukkan adanya keragaman masakan di Ranah Minangkabau ini. Masakan Payakumbuh punya ciri tersendiri, begitu pula Kapau, Batusangkar, dan lain-lain.
Tentu Anda pernah mendengar nasi kapau. Kapau adalah sebuah desa di dekat Bukittinggi yang juga punya masakan khas, antara lain rendang (isinya daging sapi dan kentang bulat kecil), dendeng balado, dan gulai itiak lado mudo (bebek cabe muda). Ada dua rumah makan di Bukittinggi - yaitu RM Simpang Raya dan RM Selamat, keduanya di depan Jam Gadang – yang menyediakan rendang khas ini. Sayangnya, dalam kunjungan terakhir ke Simpang Raya, sedang tidak musim kentang kecil, sehingga diganti dengan singkong yang dipotong dadu dan digoreng. Tentulah tidak seenak versi aslinya.
Uni Lis di Pasar Ateh Bukittinggi juga punya rendang ayam yang dicampur dengan kacang merah. Uni Lis - bersaing ketat dengan Uni Cah yang pernah dikunjungi SBY – adalah lepau nasi kapau paling juara. Khususnya untuk gulai tambusu (usus sapi diisi kocokan telur dan santan), dan dendeng balado. Sayur cubadak (nangka muda) gagrak Kapau juga dilengkapi dengan kol, kacangpanjang, dan rebung. Dendeng balado Uni Lis tidak hanya memakai cabe merah, tetapi juga dengan cabe hijau dan kacang panjang.
Soal gulai itiak lado mudo, yang paling terkenal adalah di RM Ngarai, Jl. Ngarai Binuang, Bukittinggi. Lokasinya persis di sisi dasar Ngarai Sianok, sehingga tamu juga sekaligus dapat berwisata ke sini. Lado mudo adalah cabe muda, yaitu cabe keriting yang belum menjadi merah dan masih berwarna hijau. Ada lagi RM Sambalado – di antara Padangpanjang dan Bukittinggi – ada sajian ayam lado mudo dengan cabe yang lebih muda, sehingga warna hijaunya pun lebih cantik. Ayamnya seperti ayam pop yang gurih dan lembut, dengan cabe muda yang juga lembut. Rancak bana !
Naluri pemasaran di RM Ngarai ini juga perlu diacungi jempol. Tersedia bebek cabe hijau yang sudah beku di freezer bila Anda ingin membawa oleh-oleh pulang ke tempat jauh.
Dalam artikel terdahulu saya pernah menulis tentang sentuhan khas di dapur ibu-ibu di Nagari Kinari, sebuah desa nan rancak di dekat Solok. Di nagari ini, masakan asam padeh (asam pedas) ikan ambu-ambu (tongkol) selalu mempunyai seperti kuah ikan sarden dalam kaleng. Sangat istimewa! Saya juga jatuh cinta pada pangek pisang yang dimakan dengan ketan pulen. Luar biasa! (Baca: Pulang Basamo Angku Bondan)
Di Kinari, sisa-sisa bagian ayam yang tidak dipakai untuk memasak – seperti ceker, leher, ati-ampla – dimasak dengan batang daun keladi menjadi gulai kemumu yang dijamin akan membuat Anda termimpi-mimpi untuk balik lagi ke sana.
Di antara Kayu Aro – kawasan penghasil teh terkenal – dengan Solok, ada sebuah lepau nasi Hajah Emi yang juga sudah saya tandai sebagai sasaran wisata kuliner yang tidak boleh dilewatkan. Sajian juara dari lepau ini adalah dendeng baracik. Menurut Hajah Emi, sajian ini tidak ada di lepau lain, karena merupakan resep warisan dari neneknya.
Saya nyelonong ke dapur untuk melihat bagaimana dendeng baracik itu dibuat. Ternyata, dendengnya dibuat dari potongan tebal daging bagian dada sapi (disebut gajebo di Minang, sandung lamur di Jawa). Dagingnya sudah layu dalam bumbu, tetapi belum kering, dipotong-potong dengan ketebalan sekitar dua milimeter, besarnya sekitar lima kali lima sentimeter. Anda harus berada di dapur untuk menikmati sensasi aroma dendeng yang dibakar dengan minyak kelapa.
Pasti terbit air liur Anda!
Sementara dendengnya digoreng, Hajah Emi merajang lado mudo (cabe muda) yang masih berwarna hijau, bawang merah, dan tomat. Dendeng yang sudah digoreng kering itu diletakkan di piring, ditaburi semua rajangan, lalu dikucuri dengan perasan jeruk nipis. Langsung dimakan dengan nasi hangat. Onde mande, lamaknyo!
Selain dendeng balado dan dendeng baracik, tentu Anda juga mengenal sajian khas yang disebut dendeng batokok. Sajian ini dimulai dengan daging sapi goreng yang mirip empal. Lalu dipukul-pukul dengan palu sehingga pecah, tipis, dan melebar, kemudian disiram dengan sambal cabe merah berminyak.
Istilah sambal di Ranah Minang berarti lauk-pauk. "Minta sambalnya lagi!" Maka yang datang adalah beberapa pinggan lauk-pauk. Sambal dalam pengertian umum disebut lado di Padang. Di pasar selalu dapat kita lihat penjual lado giling (cabe yang sudah digiling halus) menggunung di atas baskom besar. Orang yang tidak terbiasa akan bersin-bersin bila masuk pasar karena aroma cabe giling yang terumbar. Cabe giling dengan sedikit cuka merupakan sambal yang paling pas untuk makan soto.
Di RM Lubuk Idai – ada beberapa cabang tersebar di berbagai tempat di antara Pariaman, Padang, dan Bukittinggi – ada juga hidangan yang disebut ayam batokok. Tetapi, penampilannya sangat beda dari dendeng batokok. Di sini potongan-potongan ayam mentah dipukul-pukul dengan palu, lalu diungkep dengan bumbu. Teknik ini – sekalipun tidak menggunakan palu – mirip cara membuat bebek betutu di Bali, yaitu agar bumbu-bumbu merasuk ke dalam daging.
Ayam yang sudah diungkep dengan bumbu dan dikukus ini kemudian dipanggang. Hasilnya adalah mirip ayam panggang santan yang biasa kita jumpai dalam sajian Minang, tetapi lebih gelap warnanya dan lebih gurih rasanya.
Pulang Basamo Angku Bondan
Published in Untagged by admin | Comment (0)Puisi di atas saya kutip dari buku berjudul Pulang tulisan Happy Salma yang baru saja terbit. Sungguh menyentuh!
Tetapi, bukan karena rasa sepi bila saya kemudian melakukan perjalanan ke Padang dan Bukittinggi akhir pekan lalu. Saya sungguh me- rindukan ranah Minang nan elok - tempat saya pernah dibesarkan puluhan tahun yang silam.
Perjalanan kali ini "ditemani" 23 warga Jalansutra yang memang ingin jalan-jalan dan makan-makan ke berbagai kota di Sumatera Barat. Dikomandani oleh Andrew Mulianto dan Irvan Kartawiria, serta dibantu oleh Christine Bawole, perjalanan yang memakai "sandi operasi" Pulang Basamo Angku Bondan ini berlangsung selama empat hari. Beberapa "veteran" JS-ers yang pernah mengikuti berbagai wisata kuliner sebelumnya, tampak ikut lagi dalam perjalanan kali ini, seperti: Wibowo serta anaknya Pandito, Lorentia, Sienny yang kali ini malah memboyong ibu dan dua saudaranya, serta Siska yang khusus datang dari Medan untuk bergabung.
Keterlambatan penerbangan menuju ke Padang rupanya malah membuat peserta seperti "kesetanan". Maklum, kami baru makan siang menjelang pukul lima sore di Rumah Makan "Pagi Sore" yang legendaris itu. "Pagi Sore" adalah masakan Padang yang khas, karena rumah makan itu sendiri dimiliki oleh seorang warga keturunan Tionghoa yang sudah turun-temurun menjalani usaha ini. (Catatan: "Pagi Sore" Padang tidak ada kaitannya dengan "Pagi Sore" Palembang yang kini sudah buka cabang di Jakarta).
Andrew yang jadi jurubayar sontak kaget ketika melihat bon yang menunjukkan bahwa 75 potong ayam goreng telah ludes diganyang oleh 24 orang. "Ini doyan apa lapar?" pikirnya. Ayam kampung goreng "Pagi Sore" memang luar biasa. "Kelihatannya mah polos-polos ajah, tetapi ternyata rasanya betul-betul mantap dan gurih, dengan rasa asin yang seimbang. Saking seudeupnyah, saya sampai membayangkan nonton film di gedung bioskop sambil ngemil ayam goreng ini," kata Irvan.
"Pagi Sore" juga terkenal dengan "sambal orang miskin" yang khas. Disebut demikian karena semua bahannya belum masak di pohon. Cabenya masih hijau, tomatnya masih hijau, tekokaknya masih muda, bahkan jengkol yang dipakai pun khusus yang masih kecil-kecil. Semuanya diaduk ke dalam minyak panas tumisan teri. Wuiiih . . .
Dalam perjalanan ini, panitia memang ingin membuktikan bahwa not all nasi padang are created equal. "Pagi Sore" dipilih karena dia mewakili gagrak masakan padang yang diolah dengan sentuhan Tionghoa. Sajian "Pagi Sore" sangat mirip dengan rumah makan serupa di Jakarta, bernama "Pondok Jaya". Ada sentuhan ke-Tionghoa-an yang membuat masakan mereka bernuansa lain. Secara visual saja sudah tampak bedanya, yaitu memakai sendok bebek untuk mengambil lauk.
Malam pertama di Padang dilewatkan dengan makan malam di RM "Tanpa Nama" dan "Martabak Kubang Hayuda". Yang disebut terakhir membuat mata kami semua terbelalak. Begitu banyaknya pesanan martabak telur, sehingga sekaligus menggoreng belasan martabak di wajan datar yang super besar. Martabak gurih berkulit renyah ini didampingi teh talua alias teh telur.
Teh telur di "Martabak Kubang Hayuda" agak berbeda dengan yang disajikan secara tradisional. Di MBK, telur ayam kampung dikocok dengan blender sampai mengembang. Dengan cara ini, ketika dituang teh panas, semua partikel telur yang sudah mengembang itu terpapar dengan air mendidih yang membuatnya matang. Untuk menyingkirkan aroma amis, disediakan juga seiris limau atau jeruk nipis.
Di warung-warung tradisional, teh telur disajikan dengan cara yang lebih garang - mirip Uji Nyali. Telurnya cuma dikocok sebentar dengan sendok, lalu dituangi teh panas. Ketika disajikan, bentuk dan bau telurnya masih teramat jelas, sehingga yang tidak terbiasa makan telur mentah pasti akan berpikir tujuh kali sebelum menyeruputnya.
Keesokan paginya, kami memilih untuk tidak sarapan di hotel, melainkan pergi ke kedai kopi di Jalan Niaga. Di kawasan Pecinan ini suasananya memang mirip Glodok di awal abad ke-20. Kedai kopi yang menjadi sasaran adalah "Nanyo". Tetapi, apo dayo, ternyata kedai itu tutup berhubung renovasi. Kami harus puas dengan the second best yang ada di ruas jalan itu.
Jangan buruk sangka! Sekalipun di kawasan Pecinan, tetapi pengunjung kedai-kedai kopi di sini kebanyakan memang warga pribumi. Kopi hitam manis di sini juga disebut sebagai "kopi o" - seperti tradisi di Malaysia. Kebanyakan penduduk asli lebih suka minum kopi susu. Maklum, di masa lalu kopi susu adalah satu kemewahan di negeri ini.
Selain cakwe, bubur kacang, dan berbagai minuman lain, setiap kedai kopi juga berkolaborasi dengan berbagai penjual makanan yang mangkal di depan. Ada penjual pical (pecel), mi rebus, kwetiau goreng, dan ketupat sayur. Sayangnya, saya tidak menemukan penjual ketan - menu sarapan khas yang saya ingat di masa kecil. Dulu, ketan kukus bertabur parutan kelapa dibungkus daun merupakan sarapan yang paling populer. Lauknya adalah pisang goreng tepung atau talas goreng tepung. Mantap!
Setelah sarapan, kami meneruskan perjalanan dengan bus wisata menuju Danau Maninjau. Melintasi Teluk Bayur yang indah sambil mendendangkan lagu Teluk Bayur yang dulu dipopulerkan oleh Ernie Djohan, kami terus melaju ke Nagari Kinari, sebuah desa kecil di dekat Padangpanjang.
Kunjungan ke Kinari (artinya: kini hari, sekarang) ini sungguh merupakan salah satu "puncak atraksi" dalam perjalanan kami. Kinari adalah sebuah desa yang mungkin berpopulasi rumah gadang paling banyak di ranah Minang. Rumah-rumah tradisional nan bagonjong itu semuanya tampak terawat rapi.
Kami disambut oleh warga kampung untuk naik ke salah satu rumah, dan makan siang bersama. Asli home cooking yang dimasak oleh ibu-ibu kampung. Menunya: rendang, ikan asam padeh, biliah (ikan bilis) goreng, ayam goreng, pical, dan lain-lain. Bilis adalah ikan kecil-kecil yang endemik di Danau Singkarak, tak jauh dari Kinari. Di Danau Maninjau juga ada ikan bilis, tetapi sedikit berbeda dari yang di Singkarak. Di Danau Maninjau ada ikan kecil halus yang disebut rinuak, mirip dengan ikan nike di Danau Tondano, Sulawesi Utara.
Ikan asam padeh-nya sangat segar, dengan "tendangan" yang sedikit mirip dengan kuah sarden dalam kaleng. Tetapi, hidangan yang unik siang itu adalah justru dessert yang berupa pisang pangek, dimakan dengan ketan kukus. Pisang kepok dimasak dengan bumbu pangek yang mem- buatnya sangat gurih. Saya malah menyantapnya sebagai appetizer, agar lidah belum tercemar dengan pedasnya sambal dan gurihnya rendang.
Sebelum makan siang, beberapa di antara kami sempat melaksanakan ibadah shalat Jumat di masjid kampung bersama warga. Setelah makan siang, kami disambut dengan upacara adat. Kami berbaris menuju tanah lapang, diiringi alunan musik talempong yang dimainkan empat orang warga. Di depan kami, rombongan warga kampung mengarak seorang anak daro (pengantin putri) yang membawa carano berisi sirih pinang bagi kami.
Setelah berbalas pantun, sebagai Kepala Suku saya wajib menerima sirih pinang yang disajikan. Ah, seumur hidup baru sekali itu saya mengunyah sirih pinang. Untung saja yang menawarkan gadis cantik, sehingga saya berhasil lulus ujian Fear Factor itu.
Di bawah terpal yang digelar, kami duduk menyaksikan berbagai atraksi yang dipersembahkan warga Nagari Kinari. Ada silat, ada tari piring. Semuanya tersaji alamiah dengan setting yang alamiah pula.
Ah, bukan saja saya dipersandingkan dengan seorang anak daro di Kinari, para peserta muhibah ini juga memberi gelar kehormatan kepada saya. Tentu saja tidak sah, karena kami tidak sempat menyembelih sapi. Mau tahu apa gelar baru yang diberikan warga Jalansutra kepada Kepala Suku mereka? Angku Bondan Rajo Makan bagala Datuak Nan Tau Raso (Tuanku Bondan Si Raja Makan bergelar Datuk yang Paham Selera).
Onde mande, ado-ado sajo! *
Hak Cipta Karya Foto
Published in Untagged by admin | Comment (0)Hak Cipta Foto : Belajar Dari Kasus Media Indonesia
Oleh: Teguh Trilistyono
Karya fotografi merupakan salah satu bentuk cipta kreasi yang dilindungi oleh Hak Cipta. Jangan pernah coba memublikasikan atau menggunakan foto karya orang lain tanpa seijin fotografer yang bersangkutan. Akibat hukumnya bisa jadi akan sangat memberatkan.
Majalah Berita Mingguan Tempo, edisi 9 April 2006, pada halaman 88 memuat artikel tentang kasus gugatan hak cipta yang melibatkan seorang fotografer bawah laut melawan Harian Media Indonesia. Kasus bermula ketika pada bulan Februari 2004 lalu, Michael F.E. Sjukrie, seorang instruktur selam, diminta menjadi pengawas selam oleh tim ekspedisi Metro TV yang akan mengadakan peliputan panorama bawah laut di perairan Sorong, Papua. Dalam tim tersebut ikut pula fotografer Media Indonesia, Adam Dwiputera.
Di sela-sela menjalankan tugasnya, Michael mengabadikan panorama bawah laut dengan menggunakan kamera khusus bawah air miliknya. Sesekali Michael meminjamkan kamera tersebut kepada Adam. Malam harinya, mereka terlibat diskusi tentang foto-foto tersebut, sekaligus saling bertukar foto.
Pada 27 Februari 2005, Media Indonesia menurunkan suplemen berjudul "Panorama Papua", dengan memuat beberapa foto hasil jepretan Michael. Tetapi foto-foto itu ditulis atas nama Adam, beberapa bahkan disebut sebagai "istimewa" tanpa menyebutkan nama Michael.
Merasa dirugikan, Michael menghubungi Adam dan meminta dilakukan ralat. Janji Adam untuk segera melakukan ralat tidak kunjung terpenuhi, malahan pada tanggal 15 Juni 2005 tampil lagi sebuah foto milik Michael di harian yang sama. Lagi-lagi atas nama Adam. Michael kemudian menunjuk lawyer untuk mengurus kasus pelanggaran hak cipta tersebut. Michael meminta foto-fotonya dibayar cukup besar, karena menurut dia, disamping membutuhkan peralatan khusus, foto-foto tersebut tergolong sebagai foto moment, karena merekam momen yang tidak dapat diulang lagi.
Upaya perundingan dan damai yang diupayakan tidak membuahkan hasil. Pada awal Juli 2005, Media Indonesia sempat memuat permintaan maaf sehalaman penuh dan memuat lengkap foto-foto karya Michael. Perkara tersebut menggelinding ke meja Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Melalui putusan yang dikeluarkan Oktober 2005, PN Niaga memenangkan Michael dan menghukum Media Indonesia membayar ganti rugi kepada Michael sejmlah Rp.120 juta.
Merasa tidak puas, Media Indonesia mengajukan upaya hukum kasasi. Lagi-lagi, Media Indonesia harus menerima kenyataan pahit. Mahkamah Agung pada 18 Januari 2006 justru menguatkan putusan pengadilan Niaga yang memenangkan Michael. Cuma, besarnya ganti rugi diperkecil menjadi Rp. 45 juta ''saja''.
Media Indonesia melalui kuasa hukumnya menyatakan kemungkinan mereka akan mengajukan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung.
Sambil menunggu kelanjutan kasus ini, mari kita memetik hikmah dari kejadian tersebut. Ada sebuah pelajaran berharga bagi kita para fotografer, baik yang amatir maupun profesional. Ketika kita, suatu waktu, mendapati adanya pelanggaran hak cipta atas foto-foto karya kita atau foto karya rekan kita, tindakan apa yang akan kita lakukan? Berdiam diri saja, menerima keadaan, menyumpah serapah atau melakukan perlawanan?
Apa yang coba ditempuh oleh rekan Michael perlu kiranya untuk dipertimbangkan. Saya teringat beberapa waktu lalu, beberapa rekan FNers mengadukan foto-foto mereka yang dipergunakan pihak lain tanpa seijin mereka. Yang juga disayangkan, situs tercinta kita ini masih saja belum bersih dari pembajakan foto di antara sesama member. Sering kita dapati seorang member yang sangat terobsesi untuk memajang karya foto, tetapi kemudian melakukan jalan pintas dengan ''mencuri'' foto orang lain atau mengambil dari internet. Itu namanya pelanggaran hak cipta, yang pelakunya dapat dijerat dengan Undang-Undang No. 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta. Jadi, bagi yang pernah, doyan atau sedang berencana untuk membajak foto karya orang lain, berhati-hatilah!
Untuk Saudara Michael, salut buat Anda dan maju terus, jangan pantang menyerah memperjuangkan hak cipta foto Anda. Saya yakin jika PK benar-benar akan diajukan oleh Media Indonesia, Mahkamah Agung yang (mudah-mudahan telah) berpikiran maju akan menolaknya. Ini akan menjadi yurisprudensi yang penting bagi penegakan hukum hak cipta, terutama hak cipta atas karya fotografi.-0-
--------
Bagi yang ingin tahu lebih jauh tentang Undang-Undang Hak Cipta, silahkan buka link ini: http://www.detik.com/gudangdata/uuhakcipta/bab1.shtml
Semoga kasus-kasus seperti diatas tidak terjadi dengan WS.com. Demi kepentingan dan ikut mendorong pengembangan industri pariwisata Propinsi Sumatera Barat, WS.com harus ikut mendukung dan menjunjung pelaksanaan Undang-Undang Hak Cipta ini. Kalau tidak, belum tentu para fotografer dan penulis non Minang yang kita undang bergabung disini, akan mau dan bersedia untuk upload dan posting hasil karya cipta mereka di WS.com. Dan itu akan merupakan kerugian besar bagi Sumatera Barat.
Terlebih terkurang, mohon maaf sebelumnya. Semoga berkenan. Terima kasih.
Salam,
Nofrins
Kerajaan Foto di Dunia Maya
Published in Untagged by admin | Comment (0)Rupanya, sang penerbit Inggris diam-diam mengamati foto-foto Arbain yang tersebar di www.fotografer.net. Inilah tempat kumpul bergepok-gepok foto di dunia maya. Jumlahnya ratusan ribu. Foto-foto ini adalah karya para pencinta dunia fotografi --fotografer amatir atau profesional dari seantero Tanah Air bahkan luar negeri.
Situs www.fotografer.net (FN) mulanya semata wahana pamer foto. Mereka yang bergabung di situ ingin foto-fotonya dikomentari, entah dikritik atau dipuji. Namun, Arbain tak menyangka ada orang-orang yang begitu serius mengamati karya-karya anggota FN, seperti dirinya, lantas meminta dikompilasi dalam sebuah buku.
Inilah situs yang membuat Arbain sadar akan kekuatan, atau barangkali keajaiban, dunia maya. Ia pun merasa perlu berseloroh,''Jangan main-main dengan situs dunia maya. Efeknya duahsyaaat, ha ha ha,'' kata redaktur foto sebuah koran nasional ini. Arbain tak sendiri. Banyak fotografer, bahkan yang amatir sekalipun, ketiban durian runtuh setelah iseng-iseng memajang foto-fotonya di situs FN. Ada, misalnya, yang kontan memperoleh order foto-foto pernikahan, atau karyanya diminta jadi foto kalender, bahkan beralih profesi menjadi fotografer.
Transaksi jual-beli foto? Itu yang paling banyak. ''Jumlahnya enggak terhitung,'' tutur Kristupa Saragih, wartawan foto yang juga pendiri komunitas on-line FN. Maklum, situs FN tak pernah sepi. Tak kurang dari 1,1 juta orang menyambangi situs ini saban hari. Tak ayal, inilah wadah promosi yang efektif. Hebatnya, sebagai ajang promosi, situs FN tak mengutip duit komisi sedikit pun dari anggota. Peminat biasanya langsung bertransaksi dengan pemilik foto, yang tak alpa menyantumkan alamat e-mail. Wah...
Sejak diluncurkan 30 Desember 2002, situs FN hanya menargetkan menjaring lima ratus anggota pada tahun pertama. Namun. dalam tempo enam bulan saja, kata Kristupa, lima ribu orang sudah mendaftar atau sepuluh kali lipatnya. Ribuan orang ini adalah mereka yang ingin fotonya dipajang, dievaluasi, dan dikritik. Tak kurang dari 16 ribu koleksi foto berhasil dikumpulkan saat itu. ''Mereka ternyata amat tertarik untuk unjuk foto.''
Kian hari jumlah partisipan kian tak terbendung. Server sempat kewalahan. Maklum, foto yang keluar masuk berkapasitas lumayan gemuk. Maka, sistem database pun diubah ke mySQL. Pada Desember 2006, atau empat tahun kemudian, situs FN pun menjadi 'kerajaan foto' besar di dunia maya.
Saat ini jumlah anggota yang terdaftar 109.087 orang, jumlah koleksi foto yang dikompilasi di dunia maya 417.005 'lembar'. Belum lagi anggota baru yang mendaftar saban hari mencapai 175 orang.
Saat ini anggota FN tersebar di beragam kota dan kabupaten. Tiap daerah memiliki komunitas FN tersendiri dan lumayan solid. Komunitas FN di Jakarta menamai dirinya FN 021, di Bandung FN 022, sementara di Surabaya FN 031 (sesuai kode regional telepon). Jumlah foto-foto anyar yang masuk ke situs ini tiap hari 507 foto.
Tak heran, kata Valens Priyadi, ''FN saat ini menjadi komunitas foto on-line terbesar di Asia Tenggara. Juga masuk sepuluh besar di dunia,'' ungkap pendiri FN ini. Jika diibaratkan perpustakaan, dokumentasi foto yang dipunyai FN di dunia maya sudah menempati deretan rak-rak. FN, kata Kristupa, berambisi menjadi perpustakaan foto terbesar di dunia maya. Saat ini FN perkembangan FN telah jauh lebih pesat ketimbang negara-negara besar di Asia.
Lewat situs ini,''Orang kelak bisa membaca wajah Indonesia,'' tutur Kristupa. ''Kita juga menunjukkan bahwa fotografi Indonesia tak ketinggalan dibanding negara-negara besar lain.''
Seperti kata Arbain, jangan main-main dengan situs maya. ''Efeknya duahsyaat...''
Ruang Belajar Nan Megah
Kristupa gelisah. Dia melihat fakta adanya ratusan ribu bahkan jutaan penggemar fotografi di Indonesia. Sayangnya belum ada wadah tunggal untuk menyatukan mereka. Ada beragam klub foto. ''Namun tak ada wadah yang mampu meretas sekat-sekat institusi.'' Tak kalah penting, bagaimana nasib fotografer pemula? Ini menjadi kepedulian Kristupa. Para junior, lantaran kendala waktu dan jarak, seringkali tak mudah mengais ilmu dari para profesional. Maka, kata Kristupa,''Dunia maya adalah solusinya.''
Dia pun terinspirasi oleh situs sejenis di Amerika Serikat yakni http://www.foto.net/ yang telah mengoleksi lebih dari satu juta koleksi foto di dunia maya. Di dunia maya, boleh dibilang fotografer andal dan pemula dapat leluasa berkumpul dalam satu forum.
Akhirnya, dengan menggandeng Valens Riyadi, jagoan teknologi informasi, Kristupa berinisiatif membangun komunitas para fotografer di dunia maya. Sebuah komunitas yang amat egaliter, melintas batas. Simak saja sambutan hangat di halaman situs FN: ''Selamat datang di fotografer.net. Di sini berkumpul fotografer dari berbagai bangsa, berbagai ras, berbagai usia, baik pria maupun wanita, baik profesional, amatir, pemula, maupun hanya peminat foto.''
FN bersifat netral dan terbuka. Siapa pun diberi peluang memamerkan hasil karyanya lalu dikomentari, siapa pun bisa mengkritik sekaligus dikritik. Kritik-kritik ini, kata Kristupa, membantu fotografer mengasah kemampuan memotret. Hasilnya? Fantastis.
Valens berani menjamin tak sedikit fotografer amatir yang kini sukses menjadi fotografer profesional berkat merapat ke komunitas on-line ini. ''Jumlahnya amat banyak,'' tutur dia. Berawal dari bukan siapa-siapa, saat ini mereka telah memiliki cukup keberanian untuk menggelar pameran foto --di Yogyakarta, Semarang, Makasar, dan Solo-- sekaligus menjual karya-karyanya.
Siapa saja mereka? Komunitas FN, kata Kristupa, diawaki oleh peminat foto dari beragam profesi, umur, dan lokasi. Dari mulai anak SMA, mahasiswa, pekerja kantoran, wartawan, fotografer profesional dan amatir, pengusaha, eksekutif, hingga satpam. Sebagian kecil berdomisili di luar negeri, Ada pula warga negara asing (Singapura, Jerman, Belanda, Austria, Malaysia dan Jepang) yang mendaftar.
Tak sedikit anggota FN di Indonesia yang mulanya sekadar pencinta foto. Mereka sebetulnya ingin mendongkrak kemampuannya dalam jepret-menjepret, namun tak memiliki wadah untuk itu. Kesibukan sebagai pegawai kantoran, misalnya, membuat banyak peminat fotografer tak punya cukup waktu untuk mengembangkan diri. Lewat situs http://www.fotografer.net/ yang menjangkau tanpa batas, semua sekat-sekat ini dirobohkan.
''Setahun lalu salah seorang anggota FN yang bekerja sebagai satpam belum bisa apa-apa. Fasilitas pun minim. Tapi, ia lantas menabung untuk membeli peralatan foto yang tak murah. Dengan belajar otodidak melalui situs FN, saat ini kemampuan teknis fotografinya sudah meningkat jauh,'' ungkap Kristupa.
Gilanya, tak sedikit yang malah ingin menjadi fotografer betulan. Heru Tjandra dulunya seorang arsitek. Tapi setahun ke belakang, usai bergabung dengan komunitas FN, Heru mengambil langkah berani. Ia memutuskan pensiun dari pekerjaan yang menghasilkan banyak duit ini. ''Ia memilih menjadi fotografer profesional,'' ungkap Valens. Itu pula yang dilakoni Munir, seorang insinyur geologi yang bekerja di kilang minyak. ''Munir malah banting setir menjadi fotografer,'' Valens menceritakan teman-temannya.
Bagi Arbain Rambey. situs FN adalah ruang belajar yang megah di dunia maya. Di sini, kata Arbain, orang dapat membaca tren perkembangan foto-foto di Indonesia. ''Terus terang, style karya-karya saya juga belakangan dipengaruhi oleh situs ini. Saya banyak belajar dari sini,'' tutur dia.
Kegiatan Wajib: Hunting
Para anggota FN punya kebiasaan berkumpul bersama. ''Sambil minum wedang jahe,'' kata Kristupa. Namun, kegiatan wajib anggota komunitas FN adalah hunting foto bersama. 'Ritual' hunting foto tak sekadar dilakukan antar anggota FN. Pun tak hanya terbatas di dalam negeri. Dalam tiga tahun terakhir, acara hunting bareng FN dihelat di mancanegara seperti di Singapura, Hong Kong, Makao, Malaysia, dan Vietnam yang melibatkan komunitas foto on-line dari negara-negara tadi. ''Kita menamainya crossing the brigde,'' kata Arbain.
Acara Crossing the Brigde terakhir dihelat Agustus 2006. Selama sepekan, tak kurang dari 30 anggota FN mengobok-obok Vietnam. Peserta tur ini berasal dari beragam status dan umur. Ada pejabat pemerintah, ada eksekutif sebuah perusahaan telekomunikasi, direktur sebuah bank swasta, wartawan, hingga anak SMA.
Peralatan yang digandeng pun bermacam-macam, dari yang kelas biasa-biasa saja hingga Rp 60 jutaan. ''Yang jelas supaya bisa ikut hunting, kebanyakan harus bolos kerja atau sekolah, ha ha,'' tutur Arbain.
'Universitas' Fotografi
Memasuki situs http://www.fotografer.net/ bagai memasuki ruang-ruang diskusi pada sebuah kampus dunia maya. Klik-lah 'forum' atau 'bincang bebas'. Maka fakultas-fakultas ilmu pun terbuka lebar. Lebih dari selusin fitur penting disuguhkan FN. Fitur-fitur ini menyediakan fasilitas diskusi bagi para anggotanya dengan beragam tema, dari sekadar fotografi untuk pemula hingga bisnis fotografi. ''Setiap fitur digawangi oleh seorang moderator,'' tutur Arbain Rambey..
Apa saja fitur-fitur diskusi yang ditawarkan situs FN? Ini dia di antaranya:
* Pojok pemula
Ini adalah ruang diskusi bagi para fotografer pemula dan wahana saling tukar pengalaman.
* Fotografi umum
Ajang diskusi khusus soal komposisi, angle, ruang tajam, exposure, dan flash.
* Fotografi hitam-putih dan teknik kamar gelap
Membahas fotografi hitam-putih konvensional dan serba-serbi kamar gelap konvensional.
* Fotografi digital dan olah digital
Ini perbincangan serba-serbi kamera digital, foto digital berikut pengolahan gambar menggunakan software bantu.
* Klinik foto
Wadah berbagi pengalaman dan minta bantuan untuk memperbaiki foto yang kurang baik atau 'biasa-biasa saja' agar lebih baik dan bisa dinikmati.
* Bisnis fotografi
Seputar bisnis fotografi, memulai dan menjalankannya, pemasaran, penawaran dan servis kepada klien.
* Abstrak & still life
Seni memadukan garis, bentuk, warna dan rona, cahaya serta bayangan.
* Eksperimen dan special effect
Membahas eksperimen teknik fotografi dan special effect.
* Infra red
Seluk-beluk fotografi infra red (IR), baik menggunakan film maupun digital.